Memasuki Era Industri dan TI Sektor Pangan ketinggalan

I

mpor produk-produk pangan Indonesia setiap tahun makin tidak terbendung dan sudah pada tahap memprihatinkan jika ditinjau bahwa Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Jejak Indonesia yang pernah dinyatakan swasembada pangan (beras) dengan pidato Presiden Suharto dalam sidang FAO di Roma, Italia, semakin pudar. Setiap tahun Indonesia terpaksa mengimpor beras dari Myanmar. Sedangkan industri tahu-tempe sempat giyah oleh kelangkaan kedelai akibat impor kedelai dari Amerika dan China tersendat mengakibatkan harga kedelai mencekik produsen tahu dan tempe. Demikian juga gula, total kebutuhan konsumsi gula nasional 2012 diperhitungkan mencapai 5,2 Juta ton/tahun untuk industri (2,5 juta ton) dan konsumsi rumah tangga langsung (2,7 juta ton). Sementara produk dalam negeri untuk gula industri dan kebutuhan rumah tangga langsung hanya sekitar 2,1 ton/tahun. Padahal Indonesia punya 62 pabrik gula-51 pabrik milik BUMN, dan 11 milik swasta-termasuk 33 pabrik gula di Jawa Timur. Jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat angka terbaru menyebutkan 259 juta jiwa), pada satu sisi memang merupakan lahan subur bagi industri yang sebagian besar dikuasai swasta, termasuk pengusaha asing. Sejak era reformasi, dimulai, pemerintah sudah mulai melepaskan perputaran sebagian besar roda perekonomian kepada swasta, pemerintah hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator. Demikian juga urusan pangan. Hasilnya, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi bisa mencapai 6,6% pada 2014. Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, yang mampu bertahan di tengah keterpurukan perekonomian global.

            Namun ketika produsen tahu dan tempe kelabakan akibat harga kedelai 9impor) meroket, dan kebutuhan beras dan gula tidak tercukupi, semua orang agkat bicara. Makan adalah masalah pokok sehari-hari semua penduduk Indonesia. Peran pemerintah masih diperlukan dibidang pangan, sepenuhnya terutama memberikan fasilitas yang memadai untuk kecukupan pangan dan pengembangan investasi. Sebagai regulator pemerintah menjalankan tugasnya dengan mengurangi kuota impor gula misalnya. Namun sebagai fasilitator, pemerintah sudah tidak lagi memberikan solusi untuk meningkatkan produksi pangan (yang ternyata stagnan) sementara kebutuhan terus meningkat senyaman dengan menungkatnya jumlah kesejahteraan penduduk.

            Di neraga yang sedang berkembang menuju negara industri selalu dikatakan bahwa, total lahan untuk pertanian sudah direbut untuk pengembangan industri dan pemukiman penduduk. Sawah menyusut. Maka satu-satunya jalan adalah mengindustrialisasikan pertanian dengan teknologi dan pengolahan guna meningkatkan produksi. Mayoritas petani kita tidak memiliki “modal” dalam hal industri pertanian. Selain lahan garapan yang terbatas (kecuali lahan perkebunan strategis seperti kepala sawit), pengetahuan mereka juga tidak didukung oleh penelitian guna meningkatkan produktivitas lahan yang terbatas misalnya.

            Pada masa lalu, pendekatan dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga terkait dengan berbagai cara, melalui informasi langsung ataupun melalui media, sampai pelatihan teknis dan demoplot di lapangan. Tidak sulit kembali ke sana. Jejak kejayaan pertanian masih ada, kita tinggal meng-on-kan kembali lembaga-lembaga yang tertidur (tapi masih menyedot anggaran dari pajak rakyat). Seperti pada sektor kesehatan sudah melakukannya dengan menghidupkan kembali Posyandu yang diubah namanya dan ditambah fungsinya menjadi Pos PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Keluarga Berencana juga kembali kampanye “Dua Anak Lebih Baik” dengan menggunakan cara demokratis tanpa menekan pasangan usia subur-tidak mengharuskan keluarga muda hanya untuk memiliki dua anak saja, apalagi bertindak radikal dengan aborsi kehamilan anak ketiga dan seterusnya.

            Jika ada yang mengatakan bahwa petani tidak bisa dipaksa, memang benar demikian. Maka apabila pemerintah bisa menunjukkan keuntungan yang akan diperoleh dari satu sistem pertanian, dan menunjukkan keuntungan yang akan diperoleh dari satu sistem pertanian, dan menunjukkan peluang pasar yang meyakinkan keuntungan.




Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Sangat Bagus: 0%
Bagus: 0%
Biasa Saja: 0%
Kurang Bagus: 0%